_

_

"The Jakmania Banjarnegara, Kanggo Persija Apa Bae Tak Lakoni"

Belajar Menjadi Suporter

Menjadi seorang suporter saat ini mungkin sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Entah menjadi benar - benar seorang suporter yang selalu hadir di tribun untuk mendukung kesebelasannya berlaga, atau menjadi "Suporter Cafe" saat team kebanggaannya berlaga. Menjadi seorang suporter terutama suporter klub lokal tidaklah murah. Ada biaya yang harus dikeluarkan dengan jumlah yang lumayan menguras tabungan apalagi untuk ukuran kantong anak sekolah atau mahasiswa sekalipun.

Itu semua belum termasuk untuk membeli segala pernak - pernik semisal syal, jersey, ataupun yang berhubungan dengan klub kebanggaan. Belum lagi trend casual yang sekarang marak terjadi. Sepatu dengan brand luar negeri serta atribut lainnya yang sudah pasti harganya tidak murah, belum lagi waktu yang harus dihabiskan saat menyaksikan klub kebanggaanya berlaga. Dari berangkat ke stadion sampai pulang dari stadion. Apalagi kalau team kebanggaanya itu sampai tandang ke luar kota. Itupun masih ditambah dengan harus mengatur waktu apabila ada jadwal kumpul dengan komunitasnya.

Disini persoalaan muncul. Saat usia beranjak dewasa dan keinginan untuk mencari jati diri muncul, waktu adalah sesuatu yang sangan mahal harganya. Ada banyak kepentingan yang harus dipenuhi. Kumpul bersama dengan komunitasnya atau kumpul bersama teman main bahkan kumpul dengan keluarga. Ada orang yang bisa membagi waktu dengan mudahnya karena ada prioritas - prioritas yang sudah dibuat dan tidak sedikit yang mengeluh karena tidak punya waktu luang lebih banyak.

Akhirnya, dibutuhkan kesungguhan hati dan ketulusan saat kita benar - benar ingin menjadi seorang suporter. Tidak cukup hanya chant semangat yang sering kita teriakan saat mendukung team kebanggaan atau status loyalitas tanpa batas di akun media social yang kita punya. Dibutuhkan tenaga ekstra, pikiran ekstra dan kemampuan manajerial yang baik dalam segala hal seperti mengatur waktu, keuangan serta menjaga kondisi tetap fit agar sewaktu - waktu bisa tetap mendukung team kebanggaan berlaga.

Kalau masih belum bisa juga mengatur segalanya dengan baik, SAMA. Karena itu mari kita belajar bersama. Seberat apapun beban apabila kita mencoba untuk mengangkatnya bersama - sama tidak akan terasa berat jadinya. Yakinlah, apa yang kita pelajari di komunitas ini akan berguna dikehidupan kita nanti. itu pasti karena dari sini kita dituntut untuk menjadi manager yang handal minimal untuk diri kita sendiri. Tapi, semua pilihan ada ditangan kita sendiri karena ini hidup kita dan kita yang memutuskan seperti apa hidup kita kelak.


Tulisan salah seorang anggota @JakMania_Bara
Teguh Suprianto

Penantian 6 Tahun Terbayar 5 Menit

Kami satu jiwa, kami satu cipta
Kami satu cinta Persija
Demi kemenangan, demi kejayaan
Demi kesatuan Persija

Putaran kedua ISL musim 2012/2013 segera dimulai dimana laga awal Persija akan menjamu Persiba Balikpapan. Namun seperti musim sebelumnya, Persija menjadi tim musafir. Ya kita tahu Persija, sebuah klub yang asal Ibukota namun belakangan ini sulit menggelar laga dikotanya sendiri, kota dimana Persija dilahirkan, kota yang mendunia namun banyak juga sebagian orang yang membenci kota ini yaitu Jakarta. Begitu banyak alasan yang membuat Persija harus melakoni laga kandang tapi seperti laga tandang dikota lain.

Dan kali ini pun Persija harus menggelar laga kandang dirumah keduanya melawan Persiba di stadion Manahan Solo. Solo, sebuah kota di Jawa Tengah yang jaraknya tak begitu jauh dari kota kelahiranku Banjarnegara. Mungkin hanya membutuhkan waktu 4-5 jam jika menggunakan motor untuk sampai di Solo. Keinginan ku untuk menyaksikan Persija secara langsung di stadion kembali muncul, karna aku sendiri memang belum pernah menonton Persija live di stadion. Selama ini aku hanya bisa menyaksikan Persija melalui layar kaca saja. Namun apa mungkin aku diijinkan orang tuaku jika aku bilang ingin menonton Persija di stadion ? Sudah berulangkali sebelumnya aku pernah ijin namun hasilnya nihil, restu orang tua tak pernah kudapatkan. Mungkin karna aku wanita sehingga orangtua tak pernah memberi ijin. Karna keinginanku besar, akhirnya aku memutuskan untuk berbohong dan bilang kalo tgl 11 Mei aku ada acara di sekolah sehingga mewajibkan siswa harus menginap di sekolah, ya mungkin itu cara yang tepat agar aku bisa berangkat ke Manahan.

Setelah perijinan dan persiapan beres, Sabtu pagi sekitar jam 8 aku dan 4 rekan Jakmania Banjarnegara berangkat, tetapi kami tak langsung ke Solo namun tujuan kami adalah Purwokerto, karna kami akan berangkat bersama rombongan Jak Purwokerto, Jak Sumpiuh dan Jak Purbalingga dari Purwokerto. Sekitar jam 10 kami sampai diterminal Purwokerto, sambil menunggu dijemput oleh rekan jak Purwokerto kami pun duduk2 di warung sambil bersenda gurau. Rencana yang semula akan dijemput jam 10 diterminalpun mundur ke jam 12an. Aku pikir waktu itu akan langsung berangkat karena waktu memang sudah siang, tetapi dugaanku salah, justru kami berkumoul dulu di Taman Satria hingga sekita jam 13.30 kamu semua baru start dari Purwokerto. Melihat jam yang sudah begitu siang apa mungkin kami sampai Manahan tepat waktu ? Tetapi kami semua optimis sampai Manahan tepat pada waktunya.

Mobil kami melaju dengan kencang, karna aku tidak satu mobil dengan rekan Jak Banjar aku memilih lebih banyak diam mendengarkan yang lain bercerita dan bergurau karna aku tak mengenal satu orangpun yang ada didalam mobil itu. Sekita jam 4 kami semua berhenti di rumah makan untuk mengisi perut yang mungkin memang dari pagi belum terisi nasi. Setelah perut terisi kami semua melanjutkan perjalanan. Aku melihat jam di hp yang menunjuk ke angka 5 lebih dan kami masih tertahan di Kulon Progo. Aku sendiri tak begitu paham dengan daerah ini sudah dekat kah dengan Solo atau bahkan masih jauh. Namun bayang2 jika kami tak sampai solo pada tepat waktu menari nari dipikiranku.

Rasa khawatir menyelimuti hatiku mungkin rekan rekan Jakmania yang lain juga. Jam terus melaju begitu juga dengan mobil kami, namun kami tak kunjung sampai tujuan, jangankan Solo, Sleman pun sepertinya belum padahal sudah kick off babak pertama. Suasana mobil pecah, semua cemas dan semua takut telat. Aku sendiri juga cemas, takut jika aku gagal menyaksikan Persija langsung untuk yang pertama kali. DItengah keheningan kami mendapat kabar bahwa Persija telah unggul 1-0 atas Persiba, seisi mobil kembali gembira terlihat senyum menghiasi wajah kami. Tetapi rasa khawatir dan bayang2 gagal menonton Persija terus menghantuiku ketika babak pertama telah usai.

Rasa takut kembali menyerang manakala babak kedua telah dimulai. Sang sopir membanting setir dengan kencang, kami hanya boisa berdoa agar tetap bisa menonton Persija sesampainya di Manahan, namun sayang beribu sayang entah setan apa yang menghinggapi kami ditengah2 kepanikan dan laju kencang mobil kami selalu dihadang Lampu Merah sepertinya merekapun tak ingin kami sampai manahan.

Pertandingan menyisakan sekitar 15menit lagi dan akhirnya kami sampai di Manahan. Ini pertama kalinya aku menginjakan kaki di Manahan. Kami semua langsung berlari menuju pintu masuk, dan lagi2 Deli Fortuna tak berada dipihak kami. Kami tak diijinkan masuk oleh petugas. Aku lemas, kecewa, ingin sekali aku menangis namun aku tahan. Aku hanya bisa berdiri di luar stadion sambil memandang megahnya stadion Manahan yang menjadi kebanggaan kota Solo. Aku berpikir mungkin karna ijinku yang salah pada orangtua sehingga Tuhanpun ikut tak mengijinkan aku menonton Persija. Sorak sorai penonton sedikit terdengar hingga keluar stadion, inilah suara yang selalu membuat aku merinding saat menyaksikan Persija lewat layar kaca. Akhirnya setelah beberapa menit pintu masuk dibuka dan aku langsung berlari menuju pintu berdesakan dengan yang lain berusaha untuk masuk sebelum pertandingan selesai. 

Kurang dari 5menit mungkin pertandingan akan berakhir dan akhirnya aku bisa berdiri di tribun dimana tepat di depanku 11 punggawa Macan sedang bertanding. Inilah kali pertama aku menyaksikan Persija secara langsung sejak aku mulai menyukai Persija dari kelas 5 SD dan berdiri dengan ribuan Jakmania yang lain. Wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dan Persijaku unggu 2-1 atas Persiba. Walaupun hanya 5menit, walau aku tak melihat gol cantik yang dilesahkan oleh pemain Persija namun aku bangga akhirnya aku bisa berdiri disini. 5menit yang begitu berarti untukku setelah hampir 6tahun aku menunggu momen ini. Ya 5menit, awal yang tak begitu bagus memang namun 5menit ini yang terus menambah semangatku mendukung Macan Kemayoran. Terimakasih Persijaku.



Tulisan salah seorang anggota @JakMania_BARA
Etha Afraa

Piala Itu Berhasil Kami Bawa Pulang

Entah dengan kata-kata apa yang bisa untuk membuka tulisan kali ini, keringat kami terbayar lunas tuntas. Tak sia-sia kami datang jauh-jauh dari Banjarnegara menuju Kebumen, kota dimana TJMO Jilid 02 diselenggarakan. Setelah sebelumnya kami hanya bisa menempati urutan ke-3 bersama Jakmania Purwokerto, kali ini kami bisa keluar sebagai juara. Grup A, dijuluki grup neraka dimana diisi oleh Jakmania Kebumen (Juara 1 pada TJMO pertama sekaligus bertindak sebgai tuan rumah), Jakmania Cilacap (Sebagai RunnerUp TJMO Pertama), Jakmania Purwokerto (Juara III bersama dengan kami pada TJMO pertama).

Sulit bagi kami, namun semangat dan tekad kami kuat, dan kami yakin bisa keluar sebagai Juara. Namun sayang, Pertandingan pertama kami melawan Jakmania Kebumen hanya berakhir seri dengan skor 2-2. Pertandingan kedua kami hanya bisa tertunduk saat kami kalah dari Jakmania Sumpiuh. Namum pertandingan terakhir kami menang telak dengan skor 4-1, Pon kami dengan Jakmania Sumpiuhpun sama, 4 poin.

Setelah penyisihan grup selesai kamipun masuk ke babak semifinal, dimana pada babak penyisihan kami menang selisih gol, kami +1 sementara Jakmania Sumpiuh -1. yaps, Jakmania Kebumen dan Jakmania Banjarnegara keluar sebagai juara grup. Pertandingan semifinal pertama kami melawan Purworejo. kami menang dan masuk Final, difinal kami bertemu dengan Cilacap Barat, yaps Jakmania Cilacap dibagi menjadi 2 wilayah yaitu Jakmania Cilacap Kota dan Jakmania Cilacap Barat.

Berdebar dan kamipun berdoa semoga bisa menang melawan Jakmania Cilacap Barat, dan benar adanya delifortuna sedang berada dipihak kami. Priitttt.....Priittt ... Prrriiiiittttttt,,, Dan kami keluar sebagai juara. Hanya bisa berteriak senang dan bersyukur saat peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Seakan tak percaya bahwa kami keluar sebagai juara.
Tulisan salah seorang anggota @JakMania_BARA

TJMO Jilid 2 Selesai

Tournamen Jakmania Outsider Jilid 02 telah selesai, dan Jakmania Banjarnegara berhasil keluar sebagai juaranya. banyak cerita banyak hal yang mungkin tidak bisa dilupakan sesama Jakmania Outsider Ja-Teng bagian selatan. Salah satunya adalah bisa hadirnya GM 02 The Jakmania, yaps siapa lagi kalo bukan Ferry Indrasjarief atau yang biasa disapa Bung Ferry.

Hadirnya Bung Ferry (BF) memang sudah direncanakan sebelumnya, namu karena beberapa faktor berita hadirnya BF ke TJMO Jilid 02 pun sempat simpang siur. Akhirnya BFpun bisa menghadiri acara tersebut, dan di jemput Boim selaku ketua acara TJMO Jilid 02 ini, Momen tersebut tidak dibiarkan begitu saja oleh anggota Jakmania Outsider dari berbagai wilayah untuk meminta foto dan tanda tangan atau hanya sekedar sharing biasa dengan BF.

Terakhir Boimpun mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota, yang terlibat langsung maupun yang tidak langsung. "ucapan terimakasih buat temen temen Jak mania outsider jawa tengah khususnya bagian selatan yang sudah berpartisipasi mensukseskan acara TJMO 02 yang diselengggarakan di Kebumen.
Jak mania kebumen sebagai tuan rumah, Jak mania Purworejo, Jak mania Wonosobo, Jak mania Banjarnegara yang keluar sebagai juara, Jak mania Purwokerto, Jak mania Cilacap, Jak mania Sumpiuh dan para tamu dari Jak mania Tegal dan DIJ, Wabil khusus orang tua kita Bung Ferry yang sudah hadir memeriahkan acara kita. terimakasih banyak semoga semakin erat tali silaturahmi dan persaudaraan kita ini. amin". Dikutip dari SosMed Boim, Selasa 27 Mei 2014.

Gallery TJMO Jilid 02 (25 Mei 2014)

Perbedaan Fans Dan Suporter

Tentunya kita semua pernah mendengar istilah seperti fans atau supporter. Sepintas keduanya memang memiliki arti yang sama tapi ketika gue sotoy mengkajinya lebih dalam lagi dengan mengikuti kuliah umum di kantor-kantor lurah, walau gak ada hubungannya tapi akhirnya gue berhasil menemukan perbedaan dari dua istilah tersebut terutama dalam bidang sepak bola.

Pertama-tama mari kita mulai dari Fans, menurut gue fans itu adalah orang yang menyukai sesuatu dalam bahasan kali ini gue mau ambil contoh klub sepak bola. Ya, sekali lagi fans itu menurut gue adalah orang yang menyukai sesuatu, hanya sampai suka saja? apa tidak mencintai? oke mungkin sampai mencintai juga tapi ketika sudah sampai mencintai itu artinya dia sudah menjadi fans fanatik tapi kalau baru sampai suka aja sih namanya baru fans.

Sedangkan kalau supporter menurut gue bisa dilihat dari kata dasarnya yaitu  support (dukung, red) yang diberikan akhiran -er menjadikannya menjadi kata sifat yaitu pendukung, jadi supporter menurut gue adalah pendukung sesuatu, secara logis kalau sudah menjadi pendukung otomatis akan mendukung kalau sudah mendukung biasanya ikhlas dan apapun yang terjadi pasti akan tetap mendukung dengan segenap kemampuannya.


Jadi kalau dalam suatu kasus misalnya ketika salah satu klub sepak bola kalah di satu pertandingan dengan skor yang cukup telak 3-0 misalnya, ketika inilah perbedaan itu cukup terlihat. Seorang fans mungkin akan kesal dan marah terhadap klub karena tidak terpenuhi ekspetasinya, dan seorang fans fanatik mungkin akan mulai mencela kelemahan ataupun kesalahan klub tanpa memberi saran atau solusi ataupun kalimat positif untuk menjaga moral para fans lain ataupun diri sendiri tetap terjaga stabilitasnya, lebih parah lagi kalau fans karbitan yang cuman ada waktu senang tapi melarikan diri luntang-lantung mencari klub lain yang sedang naik daun ketika klub itu sedang terpuruk. Sedangkan dalam kondisi seperti ini seorang supporter akan tetap melantunkan lagu-lagu chant dari klub dan tetap memberi dukungan mereka dengan hal-hal positif meskipun pasti dalam kondisi seperti itu mereka juga merasa kecewa, tapi itulah supporter, tetap memiliki kepercayaan yang besar dan realistis sekalipun klub yang dia cinta itu harus menelan kekalahan.


So dari satu kasus apa sudah terlihat perbedaannya? kalo belum ya silahkan dibaca lagi, dicerna lagi siapa tau setelah dibaca berulang-ulang baru ngeh maksud dari tulisan gue ini. Atau perlu gue kasih contoh kasus lagi? oke sekarang gue ambil kasus yang lebih gampang buat di cerna, kali ini kasus dalam berpacaran misalnya. Ketika hubungan sedang terombang-ambing digoyahkan oleh ombak masalah, seorang supporter pasti akan setia mendukung, mentransfer pundi-pundi aura positif karena sifatnya yang suka sekali men-support apapun dan bagaimanapun keadaannya. Beda halnya dengan fans yang mungkin tidak akan seperti supporter, sekalipun dia tetap setia untuk menyukai dan mencintai tapi tidak banyak yang dia lakukan, tidak mendukung tidak memberikan hal positif jadi flat aja, membiarkan berlalu sesuai dengan berjalannya waktu. Kira-kira seperti itu kalo diambil dari contoh kasus kedua, semoga udah pada ngerti jadi gue gak perlu repot bikin kasus ketiga.


Oiya, fans dan supporter ini tidak berlaku bagi kalian yang menyukai artis di entertainment ya, karena gak mungkin kan ada istilah supporter band Ungu, supporter Wali Band, yang ada cuman fans, terbagi menjadi fans (saja) dan fans fanatik.
Tulisan Admin @JakMania_BARA
 
Support : All Crew The JakMania Banjarnegara | @JakMania_Bara |
Copyright © 2014. The JakMania Banjarnegara - All Rights Reserved
Template Modify by AR
Proudly powered by Blogger